Ust. Abu Wildan
Hisan, Lc.
( 021 -4288 7942
/ 7037 4645- 0815 11311
554 , 0813 8185 5656 )
Allah ta’ala
berfirman: “Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan
kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (QS.
Al-Isra: 23).
Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda, “Maukah kalian kuberitahukan dosa besar yang
terbesar?” Para Sahabat menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka
terhadap orang tua.” Kemudian, sambil bersandar, beliau bersabda lagi, “..ucapan
dusta, persaksian palsu..” Beliau terus meneruskan mengulang sabdanya itu,
sampai kami (para Sahabat) berharap beliau segera terdiam. (HR. Bukhari dan
Muslim).
Rasulullah shallallahu’alaihi
wa sallam bersabda, “Ada tiga bentuk doa yang amat mustajab, tidak
diragukan lagi: Doa orang tua untuk anaknya, doa seorang musafir dan orang yang
yang terzhalimi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Subhanallah…,
begitu mulianya anak yang mau berbakti kepada kedua orangtuanya. Dan langkah
celakanya anak yang telah durhaka kepada kedua orangtuanya. Sudahkah
kita berbakti kepada orang tua dengan benar? Mungkin kita katakan diri kita
telah berbakti. Ternyata masih amat jauh dari kriteria berbakti. Berikut ini 10
tanda anak yang telah berbakti kepada kedua orangtuanya:
Pertama: Menghormati
Kedua Orangtuanya (tidak memandang keduanya dengan pandangan yang tajam dan
tidak meninggikan suara di hadapan keduanya). Dalam Shahih Bukhari no.
2731, 2732 disebutkan bahwa jika para shahabat berbicara kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sambil merendahkan suara dan mereka tidak memandang tajam
kepadanya.
Inilah yang
dilakukan oleh para shahabat di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang mereka hormati seperti orang tua mereka. Sehingga beradab kepada kedua
orang tua dimisalkan dengan cara seperti ini pula.
Kedua: Tidak Mendahului atau Menyelak Kedua Orangtua
dalam Pembicaraan. Adab ini dapat
dipahami dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhuma, beliau berkata, “Dulu kami berada di sisi Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, kemudian didatangkanlah bagian dalam pohon kurma.
Lalu beliau mengatakan, “Sesungguhnya di antara pohon adalah pohon
yang menjadi permisalan bagi seorang muslim.” Aku (Ibnu ‘Umar) sebenarnya
ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma. Namun, karena masih kecil,
aku lantas diam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
“Itu adalah pohon kurma.” (HR. Bukhari no. 72 dan Muslim no. 2811).
Inilah sikap
shahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Di mana beliau tidak mau
mendahulukan pembicaraan jika ada yang lebih tua umurnya di hadapannya. Padahal
sebenarnya Ibnu ‘Umar mampu menjawab ketika itu. Dari sini, tidak ragu lagi,
demikian pula seharusnya beradab di hadapan orang tua.
Ketiga: Tidak Duduk di hadapan Kedua Orangtua yang Sedang
Berdiri. Larangan ini terdapat
dalam hadits dari Jabir radhiyallahu’anh. Dia menceritakan, “Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam sedang sakit. Lalu kami shalat di belakang beliau, sedang
beliau shalat sambil duduk dan Abu Bakar mengeraskan bacaan takbirnya. Lalu
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada kami. Beliau melihat
kami shalat sambil berdiri. Lalu beliau berisyarat, kemudian kami shalat sambil
duduk.
Tatkala salam,
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Jika kalian baru
saja bermaksud buruk, tentu kalian melakukan seperti yang dilakukan oleh orang
Persia dan Romawi. Mereka selalu berdiri untuk memuliakan raja-raja mereka,
sedangkan mereka dalam keadaan duduk. Ikutilah imam-iman kalian. Jika imam
tersebut shalat sambil berdiri, maka shalatlah kalian sambil berdiri. Dan jika
imam tersebut shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian sambil duduk’.”
(HR. Muslim no. 413).
Imam Mushtofa al-‘Adawy
rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini disebutkan mengenai hukum shalat
sambil berdiri sedangkan imam shalat sambil duduk dan perinciannya bukan di
sini tempatnya. Namun, dapat diambil pelajaran bahwa kita dilarang duduk
ketika orang tua kita berdiri di hadapan kita. Maka adab ini tetap bisa
diambil sebagai pelajaran dari hadits ini.”
Keempat: Tidak Mendahulukan Dirinya Sendiri Sebelum Kedua
Orangtua. Hal ini dapat dilihat dalam kisah tiga orang yang tertutup dalam
goa dan tidak bisa keluar. Salah seorang di antara mereka bertawasul dengan
amalan berbakti kepada kedua orang tuanya. Yaitu dia selalu memberikan susu
kepada kedua orang tuanya sebelum memberikan kepada anak-anaknya bahkan dia bersabar
menunggu untuk memberikan susu tersebut kepada orang tuanya sampai terbit
fajar. (HR. Bukhari no. 5974 dan Muslim no. 2743).
Kelima: Meminta Maaf Kepada Kedua Orangtua. Seyogyanya seorang anak meminta maaf atas
kesalahan dirinya kepada kedua orang tuanya karena setiap orang yang berbakti
kepada kedua orang tua belum tentu bisa menunaikan seluruh hak mereka. Sungguh
Allah Ta’ala telah berfirman, “Sekali-kali jangan; manusia itu belum
melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 23).
Maksudnya adalah manusia tidaklah dapat melaksanakan seluruh perintah Rabbnya.
Lihatlah
saudara-saudara Yusuf, mereka meminta maaf untuk diri mereka kepada orang
tuanya karena kesalahan yang telah mereka perbuat. Mereka berkata, "Wahai
ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya
kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". (QS. Yusuf: 97).
Keenam: Janganlah Membalas Orangtua yang Mencelanya. Allah ta’ala berfirman, “Maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah".”
(QS. Al Isro’: 23). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Janganlah
engkau memperdengarkan pada keduanya kata-kata yang buruk. Bahkan jangan pula
mendengarkan kepada mereka kata ‘uf’ (menggerutu) padahal kata tersebut
adalah sepaling rendah dari kata-kata yang jelek.”
Simaklah kisah
Bilal bin Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhum dengan ayahnya berikut.
Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk
ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian, maka izinkanlah mereka.” Kemudian
Bilal bin Abdullah bin ‘Umar mengatakan, “Demi Allah, sungguh kami akan
menghalangi mereka.”